Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS baru-baru ini menjadi perhatian utama. Pada tanggal 20 Januari 2026, nilai tukar tercatat menyentuh angka Rp16.945 per dolar, mencerminkan penurunan sebesar 1,53 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2025.
Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, mengungkapkan bahwa aliran keluar modal asing dan meningkatnya permintaan valas oleh perbankan serta korporasi domestik menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini. Kenaikan ketidakpastian pasar keuangan global juga memberi dampak signifikan terhadap kinerja rupiah.
Dalam konferensi pers, Perry menunjukkan bahwa selain faktor eksternal, kondisi domestik turut berkontribusi. Beberapa perusahaan besar seperti Pertamina dan PLN memiliki kebutuhan valas yang tinggi, yang turut memperburuk situasi nilai tukar.
Faktor Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah di Tahun 2026
Kondisi global yang tidak menentu menjadi salah satu penyebab utama yang menggerakkan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian ini dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh AS serta ketegangan geopolitik yang terus meningkat di dunia.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa aliran modal ke emerging market telah terhambat. Ini menyebabkan penguatan indeks dolar AS, yang berdampak negatif pada nilai mata uang negara-negara lain termasuk Indonesia.
Faktor lain seperti tingginya yield obligasi pemerintah AS turut berperan dalam memperburuk situasi. Hal ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih untuk berinvestasi di pasar AS ketimbang di emerging market, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar rupiah.
Dampak Ketidakpastian Global Terhadap Ekonomi Nasioanal
Dampak dari ketidakpastian pasar global tidak hanya terasa pada nilai tukar, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi nasional. Perusahaan yang sangat bergantung pada impor menjadi tertekan akibat meningkatnya biaya yang seiring dengan melemahnya rupiah.
Hal ini berpotensi menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia ke jalur yang lebih lambat, yang pada gilirannya berdampak pada daya beli masyarakat. Jika tidak segera diatasi, dampak ini bisa menyebabkan inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri.
Perry juga menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk mengatasi masalah ini. Langkah-langkah strategis perlu diambil agar kondisi perekonomian bisa stabil dan terjaga.
Upaya Penguatan Rupiah oleh Pemerintah dan Bank Indonesia
Untuk merespons situasi ini, pemerintah bersama Bank Indonesia mengambil langkah-langkah konkret. Pihak bank sentral telah menerapkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sehingga kondisi pasar keuangan tetap terjaga.
Diantaranya, Bank Indonesia terus memantau inflasi dan kebijakan suku bunga. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada nilai tukar dengan meningkatkan kepercayaan investor domestik dan asing.
Penyediaan likuiditas juga menjadi fokus utama dalam situasi ini. Dengan memastikan ketersediaan likuiditas di pasar, Bank Indonesia berharap dapat menahan laju pelemahan rupiah serta menjaga stabilitas perekonomian.










