Gunung Ili Lewotolok, yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini mengalami letusan yang signifikan. Dampaknya terasa luas, mengakibatkan 27 desa di sekitarnya terancam oleh abu vulkanik yang menyebar.
Awalnya, hanya tujuh desa yang diketahui terdampak, namun seiring berjalannya waktu, jumlah ini meningkat drastis hingga hampir empat kali lipat. Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lembata menyatakan bahwa desa-desa yang terkena dampak mencakup Jontona, Lamaau, Baolaliduli, Aulesa, dan Lamawolo. Menariknya, beberapa desa yang terdampak, seperti Kalikur dan Nilanapo, belum pernah mengalami situasi serupa sebelumnya.
Pihak berwenang menyadari bahwa peningkatan jumlah desa yang terpapar merupakan sinyal peringatan yang harus dihadapi dengan serius. Mereka berupaya memberikan dukungan bagi warga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar mereka.
Dampak Kesehatan Akibat Abu Vulkanik di Daerah Terdampak
Satu masalah utama yang dihadapi masyarakat adalah tercemarnya sumber air bersih. Hujan abu yang terus menerus membuat stok air yang dimiliki warga menjadi terkontaminasi, sehingga berdampak pada kesehatan mereka.
Dalam situasi demikian, kepala BPBD berinisiatif untuk berkoordinasi dalam distribusi air bersih kepada warga. Namun, terbatasnya anggaran menjadi hambatan dalam mengatasi masalah tersebut.
Dengan demikian, pihak BPBD mencoba melakukan kerja sama dengan beberapa pihak swasta untuk mendapatkan dukungan dalam hal distribusi air minum bersih. Masyarakat diharapkan tetap tenang sambil menunggu bantuan dari pemerintah.
Kerugian Ekonomi Akibat Erupsi Gunung Ili Lewotolok
Kerugian tidak hanya dirasakan dalam aspek kesehatan, tetapi juga dari sisi ekonomi. Lahan pertanian yang diolah warga menjadi tidak produktif akibat tertutup abu vulkanik.
Sayuran yang biasanya menjadi sumber penghidupan bagi para petani, kini penuh dengan abu dan tidak layak untuk konsumsi. Hal ini jelas mengancam keberlangsungan hidup masyarakat dan kebutuhan pangan mereka.
Dari pengamatan, banyak petani yang kini menghadapi kesulitan untuk mempertahankan pendapatan mereka. Investasi waktu dan modal untuk bertani menjadi sia-sia dalam kondisi yang tidak menentu ini.
Penanganan Darurat dan Kebutuhan Dasar Masyarakat Terdampak
Pemerintah daerah menetapkan bahwa meskipun sekolah-sekolah terdampak, belum ada kebijakan resmi mengenai libur sekolah. Ini menjadi perdebatan di kalangan masyarakat yang merasa khawatir akan keselamatan anak-anak.
Kekhawatiran juga mencuat terkait dengan ketersediaan masker bagi warga. Stok yang tersedia di BPBD dianggap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Di tengah situasi darurat ini, banyak warga yang terpaksa menggunakan kain sebagai pelindung untuk mengurangi dampak dari partikel abu yang berkeliaran di udara. Anjuran untuk tetap berada di dalam rumah pun disampaikan oleh pihak berwenang.
Perhatian pun diarahkan pada upaya pemerintah provinsi untuk mendistribusikan masker yang lebih banyak kepada masyarakat agar mereka terlindungi dari bahaya kesehatan.
Dalam waktu dekat, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Ili Lewotolok akan terus dilakukan. Kegiatan pengukuran dan analisis bertujuan untuk memprediksi potensi erupsi di masa mendatang.
Dengan status level III (Siaga) yang ditetapkan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang guna menghindari kemungkinan terburuk di kemudian hari.












