Penemuan mengejutkan mengenai keberadaan harimau jawa bersumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada Maret 2024, peneliti terkemuka, Wirdateti, mengumumkan analisis DNA yang mengesankan terhadap sehelai rambut yang ditemukan di pagar kebun di Desa Cipeundeuy, Sukabumi Selatan, pada bulan Agustus 2019.
Analisis ini telah menarik perhatian banyak orang karena melibatkan teknologi canggih untuk mempelajari spesies yang sudah dianggap punah. Dengan menggali lebih dalam ke dalam dunia genetik, para peneliti berharap dapat memahami lebih jauh mengenai spesies yang sangat langka.
Rambut yang diteliti merupakan bagian dari koleksi evidence utama yang menjadi titik fokus penyelidikan. Hasil dari analisis ini diharapkan dapat memberikan pencerahan terkait status harimau jawa yang selama ini menjadi misteri.
Proses Penelitian dan Metodologi yang Digunakan
Rambut tersebut dikumpulkan dan dianalisis dengan membandingkan DNA-nya dengan spesimen harimau jawa yang disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) sejak tahun 1930. Selain itu, peneliti juga membandingkan dengan subspesies lain seperti harimau Sumatera dan Benggala, serta macan tutul jawa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Analisis DNA filogenetik menunjukkan bahwa sampel dari Sukabumi memiliki kesamaan genetik yang dekat dengan spesimen harimau jawa museum. Ini menandakan bahwa ada kemungkinan keberadaan genetik yang serupa antara rambut tersebut dan harimau jawa yang pernah ada di pulau tersebut.
Namun, kesamaan ini tidak bisa disimpulkan sebagai bukti keberadaan populasi harimau jawa di alam liar saat ini. Peneliti mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam menarik kesimpulan sebelum ada bukti lapangan yang solid.
Tanggapan Ahli dan Komunitas Ilmiah
Meski temuan ini terdengar positif, sejumlah ahli lain tetap skeptis terhadap hasil penelitian ini. Salah satu kritikus, Hariyo T. Wibisono, menyoroti bahwa penelitian ini belum dipublikasikan dalam bentuk paper ilmiah lengkap, sehingga validitasnya diragukan.
Skeptisisme ini muncul karena untuk membuktikan klaim tersebut diperlukan lebih dari sekedar analisis DNA. Foto atau video yang menunjukkan keberadaan harimau jawa di alam liar masih sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan yang ada.
Perdebatan di kalangan ilmuwan meningkatkan kesadaran akan pentingnya penelitian lebih lanjut dan survei lapangan. Hanya dengan cara ini masyarakat dapat memahami lebih jauh tentang spesies yang sangat langka ini.
Dilema Kehidupan Satwa dan Ekosistem di Jawa
Kondisi ekologis di Jawa sangat kritis, membuat kemungkinan adanya populasi harimau jawa yang lestari hampir tidak mungkin. Habitat yang semakin berkurang dan rusak menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup satwa tersebut.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa mungkin masih ada satu atau beberapa individu harimau jawa terakhir yang tersisa. Namun, spekulasi ini sangat sulit untuk dibuktikan tanpa survei yang menyeluruh di semua area hutan di pulau Jawa.
Kondisi ini sangat paradoks; di satu sisi harapan untuk menemukan kembali harimau jawa masih ada, tetapi di sisi lain ada kenyataan pahit yang harus dihadapi. Keberadaan populasi lain seperti macan tutul jawa menjadi prioritas lebih penting dalam konteks konservasi saat ini.
Misteri keberadaan harimau jawa yang mungkin masih hidup memberikan pelajaran berharga dalam dunia konservasi. Hilangnya habitat merupakan faktor kritis yang mengancam banyak spesies di bumi ini. Usaha untuk menyelamatkan kehidupan liar harus diarahkan pada perlindungan habitat serta upaya rehabilitasi bagi ekosistem yang telah rusak.
Harapan untuk menemukan harimau jawa kini harus bertransformasi menjadi komitmen yang nyata untuk melindungi satwa-satwa lain yang juga terancam. Dengan keberanian dan upaya bersama, diharapkan tragedi kepunahan tidak terulang pada satwa endemik lainnya di Indonesia.












