Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) baru saja menyelesaikan proses identifikasi terhadap jenazah korban yang ditemukan dalam peristiwa tenggelamnya kapal wisata. Penemuan jenazah ini mengungkap identitas korban sebagai pelatih tim B wanita Valencia Spanyol, Fernando Martin Carreras, setelah melalui analisis data yang teliti.
Proses identifikasi yang dilakukan oleh tim DVI Biddokkes Polda NTT memastikan kesesuaian data ante mortem dan post mortem, yang mencakup ciri-ciri fisik serta barang-barang pribadi yang melekat pada jenazah. Hal ini menciptakan kejelasan perihal nasib korban dan memberi harapan bagi keluarga yang menunggu kepastian.
Proses Identifikasi yang Hati-hati dan Teliti
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, menyatakan bahwa proses identifikasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Tim DVI mencocokkan data dari keluarga dan kedutaan dengan hasil pemeriksaan medis forensik, yang memberikan hasil yang akurat meskipun terdapat beberapa kendala teknis.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah kondisi jenazah yang membuat data primer seperti sidik jari tidak bisa digunakan. Meskipun demikian, tim dapat menemukan cukup banyak data sekunder yang mengkonfirmasi identitas korban.
Setelah memperbandingkan ciri fisik serta properti pribadi seperti cincin dan jam tangan yang digunakan oleh korban, identifikasi dapat dinyatakan konfirmasi. Proses yang cermat ini menunjukkan profesionalisme dari tim DVI Polda NTT dalam mengedepankan prinsip ilmiah dan kemanusiaan.
Data sekunder yang kuat merupakan salah satu syarat untuk konfirmasi identitas korban. Meskipun tanpa data primer, hasil yang ada sudah lebih dari cukup untuk memastikan bahwa identitas korban adalah Fernando Martin Carreras.
Jenazah saat ini berada di fasilitas kesehatan di Labuan Bajo untuk penanganan lebih lanjut. Tim juga sedang berkoordinasi dengan pihak kedutaan dan keluarga untuk proses pemulangan ke negara asal.
Kronologi Peristiwa Tenggelamnya Kapal Wisata
Tenggelamnya kapal wisata KM. Putri Sakina terjadi pada malam tanggal 26 Desember, ketika kapal tersebut mengangkut sebelas penumpang, termasuk enam warga negara asing asal Spanyol. Kecelakaan ini meninggalkan duka mendalam dan kekhawatiran bagi keluarga yang menunggu kabar.
Setelah kapal tenggelam, tim SAR gabungan segera meluncurkan operasi evakuasi untuk mencari tujuh korban selamat dan menyelamatkan empat orang yang dilaporkan hilang. Proses penyisiran dilakukan secara menyeluruh untuk menemukan sisa-sisa korban di perairan sekitar Pulau Padar.
Tepat pada Minggu pagi, tim SAR menemukan satu jenazah yang diduga kuat adalah salah satu penumpang asing. Penemuan tersebut memperpanjang operasi penanganan pencarian yang sebelumnya dijadwalkan selama beberapa hari.
Hingga saat ini, dua orang penumpang masih dinyatakan hilang, menambah tekanan pada tim SAR yang bertugas. Penggunaan teknologi sensor sonar dan drone bawah air dipandang perlu guna mempercepat proses pencarian di lautan.
Tim SAR bekerja tanpa kenal lelah untuk membawa semua korban kembali kepada keluarga mereka, dan momen-momen dramatis ini juga menciptakan perhatian publik terhadap keselamatan pelayaran. Mereka berupaya untuk tidak hanya menemukan korban tetapi juga mencegah terjadinya kecelakaan serupa di masa depan.
Peran Tim SAR dalam Misi Pencarian dan Evakuasi
Kompetensi tim SAR menjadi faktor krusial dalam misi pencarian ini. Dalam kondisi cuaca yang tidak menentu dan ombak yang tinggi, tim harus bekerja cerdas dan cepat untuk menyelamatkan nyawa yang hilang. Tujuan utama mereka adalah untuk menemukan sisa-sisa korban secepat mungkin.
Paha penemuan yang terjadi pada hari kesepuluh menunjukkan dedikasi tinggi dari seluruh pihak yang terlibat. Meskipun berhadapan dengan banyak tantangan, operasi ini mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan keluarga korban yang mengetahui dan merasakan duka ini.
Sementara kesedihan menyelimuti banyak hubungan, keberhasilan menemukan korban memberi sedikit rasa lega untuk keluarga yang menunggu berita pasti. Dalam ranah pencarian ini, keandalan dan ketepatan tim SAR membuat perbedaan yang sangat besar.
Tim SAR tidak hanya mengandalkan perangkat tradisional, tetapi juga menggunakan teknologi modern dalam pencarian, hal ini menunjukkan kemajuan dalam upaya pencarian dan penyelamatan. Alat bantu modern semakin mempercepat proses pencarian meskipun situasi di lapangan tidak selalu bersahabat.
Pihak kepolisian dan tim SAR terus berkoordinasi intensif untuk memastikan kelancaran proses pemulangan korban, menciptakan kolaborasi yang kuat demi kemanusiaan. Penanganan kasus ini akan berlanjut hingga semua korban dapat kembali ke pelukan keluarga mereka.












